Selasa, 31 Januari 2017
PERKEMBANGAN SENI RAUT DAN WARNA PADA WAYANG GOLEK SUNDA
Pada saat ini terjadi pembaruan secara besar-besaran pada seni ukir dan warna pada wayang golek. Kalau saya amati memang sudah banyak bermunculan gaya-gaya baru dalam seni ukir maupun pewarnaan pada wayang golek seperti kreasi pola raut (dalam tulisan ini, istilah raut digunakan untuk menunjuk segi rupa golek secara umum, seperti pola garis alis, pola hidung, pola mata, dsb.) wajah wayang golek yang diraut atau dibentuk seperti wajah manusia, namun hal ini bukan sesuatu yang baru, jauh sebelum itu Alm Asep Sunandar di era tahun 90an sampai era 2000an beliau sudah mengaplikasikannya sedemikan rupa walau memang banyak komentar dari beberapa seniman karena keluar dari pakem (aturan, tatanan, ugeran, pola.) pola wayang golek purwa, namun hal ini tidak membuatnya berhenti begitu saja, bahkan tidak hanya polo rautnya yang digubah namun dalam pewarnaan dan pakaiannya pun mulai diperbaharui dan pada ahirnya hingga sampai saat ini tetap di aplikasikan pada wayang golek.
Menurut pendapat saya pembaharuan ini lebih banyak dikembangkan oleh seniman-seniman yang ada di lingkungan Giri Harja, karena setelah saya amati wayang golek gaya Giri Harja lebih diminati oleh berbagai kalangan, ya, karena menurut saya unsure visualisasi dan estetika nya lebih nyaman di pandang dan wayangnyapun lebih nyaman dimainkan. Selain pembahasan di atas tentang rautan pada wayang golek sekarang marak terjadi pembaruan pada tehnik pewarnaan pada wayang golek, misalnya tehnik pewarnaan wajah dan badan pada wayang golek buta maupun golek lainnya salah satunya adalah tehnik usek yang mana tehnik mengoles kuasnya dengan cara di usek yang itu menimbulkan efek kulit yang bersisik, memang tehnik ini sebelum marak di aplikasikan pada wayang golek sudah terlebih dahulu di aplikasikan pada wayang kulit salah satu tokoh penggagasnya adalah Alm Mbah Sigit Sukasman (pelopor wayang kulit ukur) seperti yang dituturkan oleh Rommy Hendrawan, dan siapa sangka bahwa tehnik usek yang di aplikasikan pada wayang kulit ini dengan cara mencampurkan cat dengan shampoo yang mengeluarkan busa yang cukup banyak akhirnya menimbulkan efek yang tak disangka sebelumnya. Dan hal itu tidak merambah pada wayang kulit saja sekarang para seniman pengrajin wayang golek pun sudah mencoba hal tersebut hanya beda bahan saja, sebelumnya memang ada tehnik pewarnaan kulit yang unik seperti contoh karya pengrajin Hendra dari Jelekong yang mana tehnik mewarnai pada golek buta dengan tehnik loreng berlapis-lapis hingga menimbulkan efek yang berbeda.
Warna pada mahkota wayang golekpun kini sudah lebih bervariativ contohnya, dahulu pola pewarnaan pada mahkota seperti luk paku, Utah-utah begitu-begitu saja, namun semenjak hadirnya kreasi pewarnaan pada mahkota oleh Bhatara Sena (putra dari almarhum Asep Sunandar) Aan dan Ujang Sarip (pengrajin wayang golek), mencoba mengaplikasikan tehnik sungging pada mahkota wayang kulit yang dimana salah satu contohnya luk paku tidak diwarnai melingkar lagi namun diaplikasikannya tehnik sungging pada wayang kulit dan alhasil tehnik ini cukup baik dari segi visualisasi dan ahirnya tehnik ini semakin menyebar dan banyak digunakan oleh penghobbi wayang maupun pengrajin wayang, dengan tehnik sekar ketik yang berbeda pula. Selain tenhik mewarnai pada luk paku, tehnik mewarnai pada garuda mungkur pun mencontoh dari tehnik sunggingan kreasi pada wayang kulit yang dimana diberi efek-efek gradasi dan bulu-bulu halus yang menimbulkan efek yang berbeda pula. Kemudian pemberian motif-motif batik pada mahkota topongan wayang golek, dan dari daerah Giri Harja juga bermunculan kreasi-kreasi baru tapi tidak meninggalkan ke khasannya gaya Giri Harja an. R.L. Mellema seorang penasihat linguistik pada The Royal Tropical Institute, Amsterdam, menulis sebuah buku yang berjudul Wayang Puppets: Carving, Colouring and Symbolism (1954). Dalam buku tersebut dia menguraikan teknik tatah sungging wayang kulit. Yang menarik, dia pun membahas cukup lengkap tentang warna itu sendiri dan perlambangan warna yang ada pada wayang kulit.
Semenjak berkembangnya media sosial kini masyarakat lebih mudah mengakses data-data, melihat perkembangan pewayangan dari segi apapun, dalam hal ini sangat memungkinkah terjadinya kreasi besar-besaran walaupun sifatnya bertahap, namun anak muda saat ini mungkin lebih membutuhkan pembaruan dalam kemasan seni rupa pada wayang golek walaupun cukup menguras dana, hal ini tiada lain adalah demi kepuasan batin akan hasrat seni yang dimiliki atau sekedar ikut-ikutan trend saja. Namun tidak mengapa, karena ini menjadi salah satu tolak ukur bahwa leluhur kita lebih bagus karyanya hingga bisa bertahan sampai saat ini dan terus dikembangkan, bila dilihat dari arah kecenderungan penggunaan cirri pakem raut dalam wayang golek bisa dilihat oleh kita sendiri berbagai gaya telah masuk untuk berkolaborasi dan saling menerima masukan dan pembaruan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar